Langsung ke konten utama

Open Minded dan Korelasi dalam Pembaharuan Etika

Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai macam pola beretika telah mengalami pergeseran dari masa ke masa. Meskipun setiap zaman umumnya memiliki “pedoman” dalam beretika yang seharusnya diikuti dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, namun saat ini beberapa etika sudah mulai pudar dan memiliki posibilitas akan ditinggalkan karena kurangnya relevansi terkait entitas sebuah zaman. Maraknya perubahan pada etika yang terjadi di Indonesia, ditakutkan akan mengikuti budaya Barat yang terkenal dengan kebebasan berekspresinya.                  

Berbagai generasi telah mengalami berbagai pergeseran makna etika. Hal ini dimulai dari Generasi X, dimana mereka tumbuh dalam lingkungan yang memiliki nilai-nilai tradisional seperti tanggung jawab, integritas, dan kerja keras sangat kuat. Generasi ini melihat nilai-nilai tersebut sebagai landasan dan kualitas moral yang harus dilestarikan. Sehingga, ketika dihadapkan pada reformasi etika, mereka cenderung mempertimbangkan kembali nilai-nilai tersebut dan memastikan bahwa landasan moral tersebut tetap relevan dan diterapkan dengan cara baru yang sesuai dengan dunia modern. Lalu generasi pun dilanjut menuju Generasi Y, di mana Generasi ini tumbuh dan berinteraksi dalam masa perubahan teknologi dan pergerakan sosial. Generasi Y yang penuh semangat dan cita-cita, serta pandangannya mengenai reformasi etika mencerminkan keinginan mereka untuk menciptakan dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan inklusif. Terakhir, terdapat Generasi Z atau Generasi Masa Kini dengan etika yang mencerminkan kebebasan berpendapat atau yang sering mereka gunakan yaitu Open Minded. Mereka Menganggap bahwasannya dengan menerima berbagai hal dalam beretika di masyarakat dapat dikatakan sebagai orang yang yang cenderung memiliki pemikiran yang terbuka terhadap suatu hal, entah itu dapat ditolerir maupun sebaliknya.

 

Adanya konsep “open minded” yang kini semakin meluas dalam masyarakat menjadikan nilai yang sebelumnya ada, lambat laun menjadi pudar. Di masa transisi pembaharuan etika ini, seringkali seseorang dinilai tidak bermoral dengan konsep “open minded” yang ia terapkan. Mengapa demikian? masih banyaknya masyarakat yang menyesuaikan diri terhadap konsep “open minded” sehingga etika yang diterapkan dalam masyarakat generasi sebelumnya ikut terguncang.


Seperti yang kita ketahui, gen-Z cenderung menginginkan suatu kebebasan berpendapat dan berekspresi yang kemudian memicu pergeseran budaya dan juga etika berperilaku dalam masyarakat. Pikiran yang terbuka tersebut memiliki makna bahwasannya kita harus dapat menerima berbagai perilaku yang terjadi dengan berdasar pada “opini dan perspektif masing-masing”. 



Saat ini, umumnya sosial media menjadi arus pengetahuan manusia dan sebagai “kehidupan” kedua bagi mereka. Dengan arus yang tak terbendung ini, banyak manusia yang terkadang kesulitan dalam menangkap sebuah makna yang benar dari suatu hal yang ingin mereka percayai. Eksistensi sosial media inilah yang tentunya mengambil peran besar dalam perluasan keterbukaan pemikiran generasi Z yang berdampak pada pergeseran makna budaya. Dengan sosial media yang merajalela, muncullah propaganda media yang kemudian memicu kubu dalam beropini yang merangsang pemikiran dan perspektif di dalam benak masyarakat yang bisa saja kontra apabila menggunakan pemikiran gen X ataupun Y. 


Menghadapi era disruptif ini, keterbukaan pikiran menjadi dasar pembaharuan etis yang dinamis. Dengan menerima keterbatasan pandangan kita, mengeksplorasi gagasan alternatif, dan menghadapi kontradiksi, kita dapat memperbarui pandangan etis kita dengan lebih efisien. Pembaharuan etis yang muncul dari pikiran yang terbuka lebih dari sekadar perubahan nilai atau norma. Ini mencerminkan kesadaran kolektif akan tantangan moral dan keberanian untuk mencari jawaban yang lebih baik. Namun, walaupun "open minded" perlu diterapkan, harus berjalan beriringan dengan budaya timur sehingga identitas yang telah ada tidak hilang termakan oleh perubahan zaman. Dengan begitu, mari kita buka pikiran kita, berbicara dengan hormat, dan bersama-sama mengembangkan etika yang akan membawa kita ke masa depan yang lebih manusiawi.




Ayo #RaihMasaDepanmu bersama Telkom University!


Penulisan oleh : Alden Abdurrasyid, Saddam Bayu, Rachma Indira, Sarah Reza


https://telkomuniversity.ac.id/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melawan Arus

Ia berjalan sendirian di tengah kota yang menolak sepi. Asap-asap menggumpal di langit, menyerupai doa yang gagal naik. Lampu-lampu jalan berkedip seperti mata-mata yang lelah mengintip kebohongan. Hujan tak turun, hanya kabut dosa yang menetap. Namanya Hasan. Seorang mahasiswa dari jurusan yang tidak pernah disebutkan dalam koran atau siaran televisi. Ia kuliah sambil bertanya-tanya: “Apakah ilmu yang kupelajari akan mengantarku kepada kebenaran atau hanya akan menambah beban di kepala?” Lalu ia menemukan tasawuf. Ia membacanya dari lembar-lembar tua yang dijual di kios buku loakan, disusun tanpa indeks, dicetak dengan tinta yang hampir luntur—seolah memang ditakdirkan untuk hanya dibaca oleh mereka yang benar-benar mencari. “Melawan nafsu adalah jihad paling besar,” tulis seseorang bernama Al-Ghazali. Hasan mengangguk waktu itu, diam-diam, di dalam kamar kontrakan yang ia sebut rahibnya . Kota ini bukan kota, pikir Hasan. Ia adalah mesin. Sebuah mesin besar yang menggi...

Copywriting Dalam Bentuk Karya Lewat lagu Hindia

Baskara Putra atau yang di kenal dengan nama panggungnya yaitu Hindia merupakan salah satu Musisi yang karya-karya nya seringkali di putar pada kalangan orang-orang usia remaja. Hindia merupakan side project dari Baskara sendiri yang dimana ia juga dikenal sebagai salah satu vokalis dari Band Alternative Rock Feast. Pada solo projek nya ini Baskara mengatakan bahwasannya projek ini ia buat karena ia ingin berbagi cerita ataupun pandangan pribadinya dan merasa kalau cerita atau pandangan tersebut ia tuangkan dalam lirik-lirik pada lagu Feast akan terkesan egois karena Feast udah menjadi milik bersama yang artinya cerita yang ada di lagu-lagu Feast adalah cerita terkait Masyarakat. Lirik lagu yang ada di dua album Hindia kebanyakan ngomongin terkait peristiwa yang dialami anak muda masa sekarang, keadaan politik tapi lewat sudut pandang pribadi dan beda dari Feast yang multi-sudut pandang, dan pergolakan batin yang dialami oleh Baskara sendiri. Nah karena lirik-liriknya neritain semu...

Dunia Kata-Kata dan Di Kepalaku Ada Kata-Kata

  “ You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life."  ―  Albert Camus " Waktu merubah banyak hal. Kekuasaan berubah, politik berubah, ilmu pengetahuan berubah. Hanya cinta dan musik yang enggak pernah berubah "  ― (Jaya, Surat Dari Praha) “We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for."   ― ( N.H. Kleinbaum,  Dead Poets Society ) “ Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan. ” ―  Leila S. Chudori,  Laut Bercerita “ Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. ”  ...