Langsung ke konten utama

Melawan Arus

Ia berjalan sendirian di tengah kota yang menolak sepi. Asap-asap menggumpal di langit, menyerupai doa yang gagal naik. Lampu-lampu jalan berkedip seperti mata-mata yang lelah mengintip kebohongan. Hujan tak turun, hanya kabut dosa yang menetap.

Namanya Hasan.

Seorang mahasiswa dari jurusan yang tidak pernah disebutkan dalam koran atau siaran televisi. Ia kuliah sambil bertanya-tanya: “Apakah ilmu yang kupelajari akan mengantarku kepada kebenaran atau hanya akan menambah beban di kepala?”

Lalu ia menemukan tasawuf.

Ia membacanya dari lembar-lembar tua yang dijual di kios buku loakan, disusun tanpa indeks, dicetak dengan tinta yang hampir luntur—seolah memang ditakdirkan untuk hanya dibaca oleh mereka yang benar-benar mencari.

“Melawan nafsu adalah jihad paling besar,” tulis seseorang bernama Al-Ghazali.

Hasan mengangguk waktu itu, diam-diam, di dalam kamar kontrakan yang ia sebut rahibnya.

Kota ini bukan kota, pikir Hasan. Ia adalah mesin.
Sebuah mesin besar yang menggiling manusia menjadi angka.
Ia menyaksikan teman-temannya satu demi satu berubah menjadi operator dari mesin itu—membanggakan tagar, algoritma, dan gaya hidup. Mereka tidak lagi berbicara dengan hati, tapi dengan trending topic.

Di pusat kota, layar raksasa menampilkan potongan-potongan iklan tubuh.
Lelaki dan perempuan dipajang dalam ketelanjangan yang disamarkan oleh mode.
Mereka menjual dosa seperti menjual sabun mandi.

“Kebebasan adalah hak segala bangsa,” kata konstitusi.
“Termasuk bebas berzina,” kata penduduknya.

Hasan mengurung dirinya. Tapi tidak untuk lari.
Ia mengurung untuk merenung.

Di dalam dirinya sendiri, ia melawan arus.
Arus yang berkata: “Nikmatilah, dunia hanya sekali.”
Arus yang menggodanya dengan gemerlap.

Ia pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Lila.
Lila tak percaya surga, tapi percaya astrologi.
Lila berkata, “Kalau kamu mencintaiku, kamu tak akan mengekangku.”
Hasan menjawab, “Aku mencintaimu, justru karena aku tak ingin kau menjadi abu di neraka yang diciptakan manusia.”

Lila meninggalkannya.
Katanya Hasan gila.

“Kau terlalu serius menjalani hidup,” kata dosennya.
“Bukankah hidup hanya untuk ditertawakan?”

Hasan tersenyum. Tapi senyumnya pahit. Seperti kopi yang tak pernah ditambah gula.

Di kota yang tiap malam berselingkuh dengan kemunafikan, Hasan adalah saksi yang mencoba buta.
Ia menutup matanya pada aurat yang diumbar di trotoar, pada keluh kesah yang dijual untuk klik dan likes, pada aparat yang menekan rakyat sembari berkata “Demi stabilitas.”

Ia berjalan seperti orang asing. Tapi juga seperti nabi yang terusir dari kampungnya sendiri.

“Jangan ikut arus,” kata gurunya.
“Karena arus itu menuju jurang.”

Hasan kini tidak tidur larut malam, tidak juga bangun siang.
Ia mengatur napasnya dengan dzikir.
Ia menyebut nama Tuhan seperti seorang kekasih memanggil nama pujaan hatinya.

Di dalam doa, ia melihat kota ini hancur.
Tapi dari puing-puing, tumbuh taman.
Ia tahu harapan masih ada. Tapi tidak di televisi. Tidak di politik. Tidak di konser yang menjual perlawanan seperti tiket nonton.

Hasan melawan arus, bukan dengan demonstrasi.
Ia melawan dengan diam yang dalam.
Dengan hati yang terus diasah agar tetap jernih.
Karena ia tahu:
Dalam dunia yang gila, menjaga kewarasan adalah tindakan revolusioner.

Dan bila semua orang sudah menyerah kepada gelombang dosa,
maka orang seperti Hasan, yang tenggelam dalam zikir dan syair-syair sufi,
akan tampak seperti alien—
tapi juga seperti lentera
di malam yang tak mau selesai.

Malam itu Hasan sedang duduk di masjid kampus yang kini lebih mirip gudang sejarah. Tidak ada lagi kajian. Tidak ada lagi lantunan doa. Yang tersisa hanyalah bau karpet tua dan suara lampu neon yang berdengung seperti lebah terjebak.

Ia membuka kitab Risalatul Qusyairiyah, membaca tentang fana dan baqa. Tentang bagaimana seorang sufi meleburkan diri dalam kehendak Tuhan, dan bukan dalam selera mayoritas.

Di luar, terdengar suara knalpot yang meraung seperti setan lapar. Mahasiswa-mahasiswa tertawa dengan kaleng bir di tangan.

Hasan hanya menutup matanya.
Ia ingin menangis, tapi tak ada air mata tersisa.

“Mereka tidak salah,” pikirnya.
“Mereka hanya tidak pernah diperkenalkan pada sunyi yang menyembuhkan.”

Suatu hari, seorang lelaki datang padanya.
Tubuhnya dipenuhi tato, dan dari mata kirinya mengalir luka yang tak pernah kering. Namanya Bima.

“Kau Hasan?”

Hasan mengangguk.

“Kudengar kau belajar jalan para wali?”

“Aku hanya belajar mencintai Tuhan.”

Bima duduk di sampingnya. Tak berkata-kata. Hanya mengisap rokok yang katanya terakhir, tapi selalu ada lagi.

“Aku pernah membunuh orang,” katanya pelan.
“Tapi dunia tidak memberiku penjara. Dunia memberiku panggung.”

Hasan menatap matanya. Bima tidak sedang bercanda.

“Apa yang kamu cari?” tanya Hasan.

“Sunyi. Tapi yang bukan karena sepi.”

Hasan tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

“Kalau begitu, mari ikut. Tapi ini jalan gila.”

“Aku sudah gila sejak dunia ini menjadi waras.”

Sejak hari itu, Hasan tidak lagi sendiri.

Ia dan Bima membuat lingkaran kecil. Mereka duduk tiap malam, bukan untuk berdiskusi filsafat atau mengutuk rezim.
Mereka duduk untuk membaca puisi Rumi. Untuk menghafal nama-nama Tuhan.
Untuk belajar bahwa menundukkan diri bisa lebih revolusioner dari menggulingkan istana.

Lambat laun, datang pula yang lain.
Ada Zahra, gadis dari fakultas hukum yang menolak jadi pengacara korporat.
Ada Ilham, mahasiswa teknik yang lebih tertarik membangun masjid daripada gedung pencakar langit.

Kelompok mereka kecil. Tapi sunyinya bergema.

Dan saat dunia sibuk mengejar panggung, mereka sibuk mengejar makna.

“Kita seperti ikan yang berenang ke hulu,” kata Zahra.
“Ya,” jawab Hasan. “Dan arus itu bukan cuma dunia. Tapi juga ego kita sendiri.”

Pemerintah suatu hari tahu soal mereka.
Karena sunyi, ternyata, juga menakutkan.
Lebih menakutkan dari teriakan.
Karena orang-orang yang diam, seringkali sedang menyusun sesuatu yang tak bisa diledakkan—
tapi bisa menumbangkan dunia.

Mereka dituduh sebagai sel radikal.
Sebagai penghasut.
Sebagai kelompok sesat.

Hasan hanya tertawa kecil.
“Lucu, dunia yang penuh dosa, menuduh kami pendosa.”

Dan malam itu, ketika langit tidak lagi menahan hujan,
dan bumi menjadi basah oleh airmata yang tidak pernah terlihat,
Hasan kembali berjalan—
sendirian, atau bersama seribu bayangan.

Ia melawan arus, bukan untuk menang.
Tapi karena itulah yang benar.

Karena satu orang yang jujur dalam doa,
lebih berbahaya bagi dunia yang busuk
daripada sejuta orang yang berteriak tanpa isi.

Mereka datang dini hari, seperti pencuri yang ingin mencuri keheningan.
Tidak berseragam. Tidak bersuara. Tapi bersenjata.

Tiga mobil hitam menjemput Hasan dari kontrakan kecilnya.
Ia tidak melawan. Tidak juga bertanya. Ia tahu bahwa dalam dunia yang memuja kebohongan, kebenaran akan selalu dianggap makar.

Ia sempat melihat Bima dipukul.
Zahra diseret.
Ilham diikat seperti kriminal.

“Apa salah kami?” tanya Zahra.
Petugas hanya menjawab dengan menunduk.
Karena mereka sendiri tidak tahu—
atau tidak diizinkan tahu.


Mereka dibuang ke sebuah tempat yang tak ada dalam peta.
Kamp pemurnian, kata mereka.
Tapi sebenarnya, itu adalah tempat pelurusan pikiran—tempat di mana manusia dipaksa melupakan bahwa mereka pernah bernapas dengan jujur.

Setiap pagi mereka dijejali ceramah:
“Negara di atas segalanya.”
“Tuhan adalah urusan pribadi, jangan dibawa ke ruang publik.”
“Moral hanyalah konstruksi budaya, bukan kebenaran mutlak.”

Hasan hanya menunduk.
Dalam hati ia membaca:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka,
padahal Allah tidak akan membiarkan cahaya-Nya padam.”

(Q.S. As-Saff: 8)

Hari ke-17, mereka mencoba membuat Hasan berbicara.
Mereka sodorkan kamera, mikrofon, dan selembar teks yang harus ia baca:
“Saya, Hasan, mengakui bahwa saya telah menyesatkan mahasiswa.”
“Saya menyebarkan paham anti-modern, anti-negara, dan menyalahgunakan agama.”

Hasan diam.
Mata kameramen gemetar.
Petugas mulai gusar.

“Kalau kau tidak baca, kami akan...”—

Hasan memotong:
“Kalian bisa membunuh tubuhku, tapi tidak bisa membunuh apa yang sudah tumbuh.”

“Apa itu?”

“Kesadaran.”

Malam harinya, Hasan dibuang lebih jauh.
Ke desa mati yang tak punya listrik, air bersih, atau jalan keluar.
Ditemani jangkrik, debu, dan langit yang terlalu luas untuk manusia yang takut pada sunyi.

Ia menggali tanah. Menanam bibit. Menyiramnya dengan air wudhu.
Ia shalat di atas tikar daun pisang.
Ia menghafal syair-syair Ibn Arabi sambil memetik bayam.

Dan satu demi satu, penduduk desa mulai mendatanginya.
Anak-anak bertanya:
“Tuhan itu seperti apa, Kak Hasan?”

Ia menjawab lembut:
“Seperti udara. Tak terlihat, tapi kalau hilang kita mati.”

Ibu-ibu mengundangnya makan.
Petani-petani mulai ikut berdzikir sambil mencangkul.

Sampai suatu hari, aparat datang lagi.
Tapi bukan untuk menangkap.
Melainkan karena kota telah rusak total.
Pemerintahan tumbang oleh skandal, masyarakat marah, jalanan penuh mayat moral.

Dan satu-satunya yang masih berdiri tegak adalah orang-orang yang pernah mereka buang.

Hasan diminta kembali.
“Pimpin kami.”
“Bangun kembali negeri ini.”

Tapi Hasan hanya tersenyum.

“Aku bukan pemimpin.”
“Aku hanya seorang yang sedang belajar taat.”

Dan dunia pun mulai belajar dari orang yang dibuang karena kebenarannya.
Karena kadang, untuk menyelamatkan masa depan, seseorang harus rela diasingkan dari masa kini.

Hasan tidak pernah benar-benar kembali.

Ia tidak mengambil jabatan. Tidak duduk di kursi birokrasi. Tidak berdiri di mimbar kekuasaan. Ia hanya menetap di dusun kecil, dengan sumur tua dan mushala reyot, yang kini menjadi tempat ziarah orang-orang yang kehilangan makna.

Mereka datang bukan karena Hasan hebat. Tapi karena dunia telah membuat mereka letih menjadi pintar.

Suatu pagi, seorang wartawan muda bertanya,
“Mengapa Anda tidak melawan saat dituduh sesat?”

Hasan menatap langit, menjawab dengan pelan,
“Karena kebenaran tidak tumbuh dari pembelaan. Ia tumbuh dalam waktu, seperti biji yang ditanam dalam luka.”

“Tapi Anda bisa saja membela diri di depan publik—”

“Lalu apa bedanya aku dengan mereka yang haus sorak-sorai?”

Wartawan itu terdiam.

Hasan tidak mengajar di kelas. Ia mengajar lewat diam.

Ia tidak memberi petuah. Ia menyapu halaman, menanam cabai, memetik bunga, dan memberi makan kucing. Tapi dari diam itulah, orang-orang mulai mengerti:
bahwa kebijaksanaan tidak turun dari langit dalam bentuk doktrin. Ia tumbuh dari kesediaan menerima dunia tanpa syarat.

“Mengapa dunia jadi begini?” tanya seorang anak.

“Karena manusia lebih ingin mengubah dunia, daripada mengubah dirinya,” jawab Hasan.

Suatu malam, seorang penguasa baru datang dengan helikopter.

“Kami ingin Anda jadi penasehat spiritual negara.”

Hasan tersenyum, menyalakan pelita, dan berkata,
“Negara adalah bayangan. Manusia adalah kenyataan.”

“Maksud Anda?”

“Kau bisa menyinari bayangan, tapi tak akan membuatnya hidup. Fokuslah pada manusianya, maka bayangannya akan membentuk sendiri.”

Bulan demi bulan berlalu.
Dusun itu menjadi rumah bagi mereka yang kecewa, namun belum menyerah.
Mereka datang membawa pertanyaan, dan pulang tanpa jawaban—
tapi dengan dada yang lebih lapang.

Sebab Hasan tidak menjawab.
Ia hanya menuntun orang kembali mendengarkan suara yang telah lama mereka matikan sendiri: suara hati.

“Apakah Anda nabi?” tanya seorang gadis kecil.

Hasan tertawa, lalu menjawab,
“Aku hanya orang yang mencoba mendengarkan Tuhan di tengah bising dunia.”

“Apa Tuhan bicara?”

“Ia selalu bicara. Kita saja yang terlalu sibuk jadi manusia.”

Dan pada hari terakhirnya, Hasan duduk di bawah pohon asem.

Ia menulis satu kalimat pada tanah dengan ranting:

“Barang siapa yang melawan arus dengan cinta, ia tak akan sampai ke muara, tapi akan menjadi sungai itu sendiri.”

Kemudian ia menutup mata.
Dan tak bangun lagi.

Tapi sunyinya tetap hidup.
Dalam senyap anak-anak yang belajar merenung.
Dalam diam para petani yang kini berdzikir sambil mencangkul.
Dalam doa-doa yang tak lagi meminta, tapi memuji.

Sebab Hasan telah menjadi sesuatu yang tak bisa dibuang:
Kesadaran yang menular.

Komentar