Ia berjalan sendirian di tengah kota yang menolak sepi. Asap-asap menggumpal di langit, menyerupai doa yang gagal naik. Lampu-lampu jalan berkedip seperti mata-mata yang lelah mengintip kebohongan. Hujan tak turun, hanya kabut dosa yang menetap. Namanya Hasan. Seorang mahasiswa dari jurusan yang tidak pernah disebutkan dalam koran atau siaran televisi. Ia kuliah sambil bertanya-tanya: “Apakah ilmu yang kupelajari akan mengantarku kepada kebenaran atau hanya akan menambah beban di kepala?” Lalu ia menemukan tasawuf. Ia membacanya dari lembar-lembar tua yang dijual di kios buku loakan, disusun tanpa indeks, dicetak dengan tinta yang hampir luntur—seolah memang ditakdirkan untuk hanya dibaca oleh mereka yang benar-benar mencari. “Melawan nafsu adalah jihad paling besar,” tulis seseorang bernama Al-Ghazali. Hasan mengangguk waktu itu, diam-diam, di dalam kamar kontrakan yang ia sebut rahibnya . Kota ini bukan kota, pikir Hasan. Ia adalah mesin. Sebuah mesin besar yang menggi...
Sebuah aksara hasil tulisan Franz Kafka